Selamat datang di website ProFauna Indonesia | www.profauna.org

Perdagangan Penyu Di Pesisir Selatan Jawa




Daftar Isi

 

Perdagangan penyu dan bagian-bagian tubuh penyu ternyata masih banyak terjadi di pesisir selatan Pulau Jawa. Penyu tersebut diperdagangkan dalam bentuk daging, telur, karapas dan souvenir yang terbuat dari bagian tubuh penyu. Perdagangan penyu tersebut terjadi di Pantai Teluk Penyu Cilacap Jawa Tengah, Pantai Puger Banyuwangi, Pangandaran Jawa Barat, Pelabuhan Ratu Jawa Barat, Pangumbahan Sukabumi dan Pantai Samas Yogyakarta. Praktek perdagangan penyu tersebut diungkap oleh ProFauna Indonesia dan Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animal (RSPCA) setelah melakukan investigasi pada bulan Januari-April 2005.

Dari 11 pantai di selatan Pulau Jawa yang dikunjungi oleh ProFuna Indonesia, sebuah organisasi perlindungan satwa, 6 pantai tercatat menjual penyu dan bagian-bagiannya. Sebagian besar (98%) bagian penyu yang diperdagangkan adalah telurnya, kemudian souvenir terbuat dari penyu (1,3%), opsetan penyu (0,11%) dan daging penyu 0,01%. Pantai yang paling banyak menjual penyu adalah Pantai Teluk Penyu di Cilacap, Jawa Tengah. Di Teluk Penyu Cilacap, penyu diperdagangkan dalam bentuk daging, opsetan, souvenir dari penyu, telur dan minyak penyu.

Penyu yang paling banyak dibuat opsetan (awetan) adalah penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang dijual seharga rata-rata Rp 1 juta. Jenis opsetan penyu lain yang juga dijual adalah penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu lengkang (Lepidochelys olivacea). Sebagian besar asal opsetan penyu tersebut adalah dari Situbondo Jawa Timur dan Madura. Selain dalam bentuk opsetan, penyu juga diambil minyaknya. Minyak penyu yang dipercaya sebagai obat penyakit kulit itu dijual seharga Rp 15.000 50.000 per botol.

Perdagangan Produk Penyu di Yogyakarta

Sementara itu perdagangan souvenir atau produk penyu sisik masih terpusat di Yogyakarta, terutama di Kotagede dan Jalan Malioboro. Di kedua tempat ini perdagangan souvenir yang mengandung bagian tubuh penyu masih berlangsung dengan bebas. Padahal perdagangan penyu sisik ini sudah dilaporkan oleh ProFauna sejak tahun 2001, namun pemerintah tidak mengambil tindakan tegas untuk menghentikan praktek perdagangan penyu illegal tersebut.

Semua jenis penyu dan bagian-bagiannya di Indonesia telah dilindungi undang-undang. Menurut UU Nomer 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perdagangan satwa dilindungi dapat dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta. Namun hokum ini sepertinya tidak berlaku di Yogyakarta dan Cilacap, karena di kedua tempat ini penyu dan bagian-bagianya diperdagangkan dengan bebas.

Menurut catatan ProFauna, sekitar 1000 ekor penyu setiap tahunnya dibantai untuk dibuat opsetan dan dijual di sepanjang pesisir Pantai Selatan pulau Jawa. Kemudian sekitar 60 ekor penyu setia tahunnya yang tertangkap tanpa sengaja oleh jaring nelayan. Penyu yang tertangkap tanpa sengaja itu kemudian dikonsumsi dagingnya. Daging penyu paling banyak dijual di Teluk Penyu Cilacap.

ProFauna menyerukan agar pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap perdagangan penyu di Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Cilacap Jawa Tengah. Dikuatirkan perdagangan penyu ini akan semakin membesar dan semakin sulit untuk dihentikan. Dalam kasus perdagangan souvenir penyu sisik di Yogyakarta, ProFauna bersama Lembaga Advokasi Satwa (LASA) telah melakukan upaya advokasi agar perdagangan souvenir itu segera dihentikan. Namun pihak pemerintah dalam hal ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta tidak bersikap tegas untuk mengentikan perdagangan penyu yang jelas telah melanggar hukum.