Selamat datang di website ProFauna Indonesia | www.profauna.org

Penyelamatan Penyu Lekang




Daftar Isi

 

Penyelamatan penyu lekangDENPASAR—ProFauna Bali bersama masyarakat setempat dan para turis melakukan pelepasan tukik dari telur penyu Lekang di Pantai Kuta, Rabu (23/4). Selain itu, karyawan hotel Kuta Sea View yang memperingati Hari Bumi dengan acara bersih-bersih pantai juga turut dalam pelepasan tukik ini.

Telur penyu tersebut menetas di waktu pagi pada hari yang sama. Telur tersebut berasal dari sarang penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) yang bertelur, Senin (3/3). "Dari 112 butir telur yang menetas, sebanyak 81 ekor tukik dilepaskan ke laut.", menurut Koordinator Kantor ProFauna Bali, I Wayan Wiradnyana.

Kegiatan yang telah berlangsung bertahun-tahun ini mulai mengubah citra Bali yang dulu dikenal sebagai pusat pembantaian penyu (terpusat di Tanjung Benoa), menjadi daerah yang memiliki kepedulian tinggi terhadap program perlindungan penyu. Salah satu contoh nyatanya adalah masyarakat Pantai Kuta ini. Tanpa bayaran, mereka bekerja dengan sepenuh hati untuk melindungi penyu yang mendarat di Pantai Kuta.

Tegal Besar

Selain di pantai Kuta, ProFauna dan masyarakat selama bulan April berhasil menyelamatkan 3 sarang penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Pantai Tegal Besar, Klungkung, Bali. 78 butir telur, Jumat (4/4); 63 butir telur, Jumat (11/4); 92 butir telur, Senin (28/4) direlokasi ke bak penetasan oleh masyarakat.

I Wayan Wiradnyana, Koordinator Kantor ProFauna Bali menyatakan telur-telur ini diperkirakan akan metetas pada akhir bulan Mei dan awal Juni 2008. Selain kaya akan budaya, Masyarakat Bali peduli terhadap pelestarian penyu, seperti yang dilakukan masyarakat Pantai Tegal Besar ini.

Program untuk perlindungan tempat pendaratan penyu secara intensif, dilakukan sejak tahun 2003 kerjasama ProFauna dengan BKSDA Bali bersama masyarakat diantaranya kegiatannya berupa pemasangan papan penyu di Kuta dan Pantai-pantai di Kabupaten Klungkung meliputi Tegal Besar, Lepang, Klotok, Kusamba dan Pesinggahan. Kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan dan pelatihan di masing-masing tempat.

"Tegal Besar menjadi unik karena yang bergerak seluruh lapisan masyarakat dari petani, nelayan yang dimotori generasi. Selain penyu mereka juga melindungi burung kokokan (kuntul sawah) yang mencari makan dan tidur/bersarang pohon-pohon besar di rumah-rumah penduduk," kata I Wayan. Peran serta masyarakat sangat penting karena sekecil apapun pasti berdampak besar.

Devi Rameiyanti, Awareness Program officer