Catatan Pendiri | 07 April 2011
Home » Arsip Catatan Pendiri » Berbagi dengan Tekukur
Berbagi dengan Tekukur

Terkukur (Streptopelia chinensis)
Tak salah jika sebagian orang mengatakan bahwa "orang kuno" itu lebih arif dan bijaksana. Paling tidak itu yang saya tangkap ketika lebih dari 20 orang penduduk Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, berkumpul di P-WEC di awal tahun 2011. Mereka berkumpul di P-WEC yang berada di kaki Pegunungan Kawi itu untuk menambah wawasan tentang pelestarian satwa liar. Maklum Desa Kucur sudah mengeluarkan peraturan desa yang melarang penangkapan semua jenis satwa liar. Sebuah peraturan desa yang ramah terhadap alam.
Penduduk desa yang berkumpul di P-WEC itu akan menjadi semacam "satgas" penegakan peraturan desa itu. Untuk itu dirasa perlu mereka "dikuliahi" tentang persoalan pelestarian satwa liar, dan saya yang mendapatkan sampur untuk memberikan kuliah kepada penduduk desa yang sebagian besar petani itu.
Namun dalam pertemuan itu justru saya merasa bahwa sayalah yang banyak belajar dari petani yang lugu itu. Saya merasa bahwa mereka telah melakukan suatu tindakan nyata yang berbau kental soal animal welfare. Mereka yang tidak pernah mendapatkan ilmu animal welfare, justru telah menerapkan prinsip kasih sayang terhadap binatang dalam keseharian mereka. Saya dibuat kagum dan tertegun.
Apa yang dilakukan oleh petani itu yang membuat saya berkesimpulan bahwa mereka adalah 'aktivis penyayang binatang sejati'? Ada seorang petani yang bertanya kepada saya, "bagaimana cara menangani burung tekukur yang selalu memakan benih tanaman yang kami tanam tanpa harus membunuh tekukur itu?" Terus terang saya kebingungan menjawab pertanyaan tersebut, karena ini menjadi dilema. Jika tekukur tidak dibunuh maka tanaman petani itu rusak, jika tanaman rusak otomatis petani menjadi gagal panen dan ini menjadi bencana buat anak istri petani itu. Sementara kalau tekukur itu dibunuh tentu akan melanggar kaidah "animal welfare". Sebuah pertanyaan sederhana, namun jawabannya rumit.
Untuk orang yang berpikiran pendek dan tidak punya etika, akan menjawab secara sederhana, "bunuh saja tekukur itu dengan diracun". Atau jaring saja tekukur itu, kemudian dijual di pasar burung, lumayan akan dapat tambahan penghasilan. Atau yang pikirannya lebih ngawur akan bilang undang saja orang kota yang gemar membunuh binatang, lalu suruh mereka menembaki burung itu atas nama hobby. Pasti orang kota itu akan girang mendapat 'obyek" buruan untuk dibunuh dengan keji. Heran, koq ada hobby membunuh mahluk hidup lain untuk sebuah tujuan yang hanya sekedar memuaskan nafsu belaka.
Di tengah kebimbangan itu tiba-tiba ada petani lain yang mengangkat tangan dan berbagi tips dalam menangani 'hama' burung tekukur itu. Petani itu bilang bahwa selama ini dia tidak ada masalah dengan tekukur. Tanamannya tetap bisa panen dan tekukurpun tetap bisa hidup berdampingan dengan petani itu. Apa yang dilakukan oleh petani itu? Apakah dengan ilmu klenik atau pergi ke dukun untuk mengusir burung tekukur itu?
Ternyata petani itu menerapkan ilmu berbagi dengan alam. Agar tekukur itu tidak memakan tanaman, dia sengaja memberi makan tekukur itu dengan butiran jagung. Petani itu memberi jatah makanan kepada tekukur dengan harapan pasukan tekukur tidak menyerbu tanaman yang lagi ditanam. Anehnya setelah burung tekukur itu diberi makan, mereka tidak memakan tanaman petani itu. Mungkin ini sebuah bentuk toleransi. Sulit dimengerti secara logika, karena memang tidak ada perjanjian tertulis antara petani dan burung tekukur itu, yang ada adalah 'ikatan batin' sebagai sesama mahluk yang sama-sama memanfatkan bumi ini.
Memang petani itu akan mengeluarkan biaya untuk membeli jagung untuk makan tekukur, namun dia masih bisa panen karena tanamannya tidak habis dimakan tekukur. Daripada serakah, tidak mau mengeluarkan uang untuk membeli jagung, namun justru semakin bangkrut karena panennya akan gagal total. Petani itu juga sadar bahwa sebelum mereka membuka ladang di tepi hutan itu, para tekukur itu sudah duluan ada disana. Justru pada dasarnya petani itulah yang mengusik kehidupan tekukur dan satwa liar lainnya.
Saya tercenung dengan kearifan berfikir dan bertindak dari petani yang tidak pernah mengeyam bangku kuliah itu. Hari itu saya mendapatkan ilmu dari para petani, padahal acara formalnya pada awalnya merekalah yang akan":berguru" kepada saya. Para petani itu dalam kesehariannya telah menerapkan kaidah-kaidah animal welfare. Mereka telah dengan rela berbagi kehidupan ini dengan satwa, mereka rela berbagi dengan tekukur. Akankah kita rela seperti petani itu untuk berbagi dengan satwa?
(Rosek Nursahid, Pendiri ProFauna, email: rosek@profauna.org)