Selamat datang di website ProFauna Indonesia | www.profauna.org

Catatan Pendiri | 02 September 2010
Home » Arsip Catatan Pendiri » Terlalu Manis, untuk dilupakan...

Terlalu Manis, untuk dilupakan...




Rosek Nursahid, pendiri ProFauna IndonesiaRosek Nursahid,
pendiri ProFauna Indonesia

Penggalan lirik lagu Slank yang popular itu mengalun merdu dari Kaka diikuti koor ratusan orang yang berjubel di kantor Gubernur Maluku Utara. Gubernur dan tokoh masyarakat Maluku Utara yang hadir juga turut mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti irama lagu yang dinyanyikan Slank. Ini bukan sebuah konser musik biasa, karena momen ini memang terlalu manis untuk dilupakan begitu saja seperti lagu yang dinyanyikan Kaka sang vokalis Slank itu.

Di pertengahan April lalu Slank melonggarkan waktunya untuk sambang ke Sofifi di Pulau Halmahera yang berjarak 1 jam dari Ternate dengan motor boat. Kedatangan Slank di ibukota Maluku Utara itu bukan untuk konser musik, melainkan untuk kampanye pelestarian burung nuri dan kakatua bersama ProFauna. Memang dalam kampanye itu Slank sempat menyanyikan 5 lagu, salah satunya "terlalu manis", namun itu hanyalah sekedar pelengkap. Inti kedatangan Slank adalah untuk memberikan perhatian, empati dan kepedulian tentang burung nuri dan kakatua di Maluku Utara yang semakin terancam punah.

Slank yang merupakan kelompok musik papan atas dan super sibuk itu masih mau datang ke Maluku Utara "hanya" untuk nuri dan kakatua. Bukanlah perkara mudah untuk mengajak Slank ke Maluku di tengah kesibukan mereka. Slank memang sejak tahun 2002 sudah mendukung ProFauna, namun tetap saja Slank adalah sebuah public figure yang seabrek jadwalnya. Perlu waktu lama untuk memadukan jadwal Slank dengan jadwal Gubernur Maluku Utara dan juga Sultan Ternate. Lho koq jadi ribet? Tidaklah ribet sebenarnya jika dibandingkan dengan hasil mulia yang diharapkan dari momen yang terlalu manis untuk dilupakan itu.

Momen manis itu adalah pemberian penghargaan oleh RSPCA, sebuah organisasi perlindungan satwa tertua di dunia asal UK, dan juga oleh ProFauna kepada Gubernur Maluku Utara dan Sultan ternate atas kepedulian mereka untuk melindungi burung endemic Maluku Utara. Mungkin gubernur dan Maluku Utara sudah terbiasa dengan pemberian penghargaan. Hal yang biasa juga bagi gubernur dan sultan mendapatkan penghormatan, termasuk barangkali itu adalah "penghormatan" pura-pura dari kaum oportunis.

Namun penghargaan da penghormatan yang diberikan oleh RSPCA, ProFauna dan Slank itu bukanlah penghormatan biasa. Ini penghormatan serius, tulus dan sarat dengan amanah. Pemberian penghargaan itu jangan dinilai dari secarik kertas yang diberikan, namun secarik kertas itu adalah simbol dari amanah bagi Gubernur Maluku Utara dan Sultan Ternate untuk lebih serius lagi dalam melestarikan burung nuri dan kakatua. Kalau penghargaan itu hanya dianggap sebagai sebuah penghargaan biasa dan bisa saja kemudian setelah gemerlap seremoni secarik kertas penghargaan itu dibuang ke tong sampah, maka acara itu menjadi sia-sia. Menjadi tanpa makna, menjadi garing.

Momen pemberian penghargaan dan kehadiran band super sekaliber Slank di tengah-tengah pejabat dan juga slanker Maluku Utara itu hendaknya menjadi momen yang terlalu manis untuk dilupakan. Sang gubernur, sultan da rakyat Maluku Utara mesti ingat terus akan amanah dibalik pemberian penghagaan itu. Salah satu wujud dari amanah itu adalah pemerintah daerah Maluku Utara perlu segera mengeluarkan peraturan daerah yang melarang penangkapan burung dari alam Maluku Utara untuk kepentingan komersil. Kalau amanah itu dilakukan maka seperti kata Bimbim, drummer Slank, "Maluku Utara dengan kekayaan alam dan burungnya sangatlah indah, ini terlalu manis untuk dilupakan……."


(Rosek Nursahid, pendiri ProFauna Indonesia)