Selamat datang di website ProFauna Indonesia | www.profauna.org

Terbang Tanpa Sayap

Investigasi Mendalam ProFauna Indonesia tentang Perdagangan Burung Paruh Bengkok di Indonesia




Daftar Isi

 

Sekitar 85 spesies burung paruh bengkok hidup di Indonesia. Penangkapan burung paruh bengkok untuk diperdagangkan menjadi ancaman serius bagi kelestarian burung tersebut karena mereka juga mendapat ancaman dari perusakan habitat.

Pada bulan Januari 2001 hingga Maret 2002 ProFauna Indonesia dengan didukung dana dari RSPCA melakukan investigasi tentang perdagangan burung paruh di Indonesia yang meliputi monitoring di 5 pasar burung di Jawa, investigasi di lokasi penangkapan seperti Maluku Utara dan Papua, menelusuri jalur perdagangannya, termasuk jalur ekspornya. Investigasi ini difokuskan kepada beberapa jenis burung yaitu Cacatua spp, Tanygnathus spp, Eos spp, Lorius lory, Eclectus roratus dan Alisterus Chloropterus.

Hasil monitoring selama 3 bulan di 5 pasar burung di Jawa menunjukan sebanyak 47% burung paruh bengkok yang diperdagangkan adalah termasuk jenis yang dilindungi, antara lain Cacatua sulphurea, Cacatua gofini, Eclectus roratus, Lorius lory, dan Cacatua galerita. Jenis burung yang paling banyak diperdagangkan adalah Lorius lory.

Sebagian besar asal burung yang diperdagangkan di pasar burung di Jawa adalah dari Papua dan Maluku. Semuanya adalah hasil tangkapan dari alam. Diperkirakan ada sekitar 15.000 ekor burung paruh bengkok asal Maluku Utara yang ditangkap setiap tahunnya untuk diperdagangkan. Di Maluku Utara dan Sorong Papua terdapat beberapa penampung/supplier burung paruh bengkok yang secara rutin mengirim burung ke sejumlah eksportir di Jakarta dan Bali. Tingkat kematian burung akibat transportasi adalah sebesar 10%.

Perdagangan burung paruh bengkok telah mendorong penangkapan besar-besaran burung ini di alam. Kuota tangkap yang telah ditetapkan oleh PHKA telah banyak dilanggar. Pelanggaran ini melibatkan pengusaha burung, eksportir dan KSDA di daerah. Beberapa jenis burung yang pada tahun 2001 kuota tangkapnya nol, seperti Cacatua alba, namun pengusaha di Maluku Utara terus menangkapnya dan mengirimnya ke sejumlah eksportir burung di Jakarta seperti Firma Hasco, CV Widas dan CV Rahmat. Meskipun tidak ada kuota tangkapnya, namun KSDA di Maluku Utara dan juga di Papua telah mengeluarkan surat ijin angkut satwa tersebut atau surat ijin tangkap. Ini adalah sebuah pelanggaran peraturan yang ditetapkan sendiri oleh PHKA.

Sejumlah eksportir burung di Jakarta dan Bali pada tahun 2001 aktif mengekspor burung paruh bengkok ke berbagai negara seperti Pakistan, Qatar, Italia, Jepang, Taiwan, Sepanyol, dan lain-lain. Sebagian besar burung yang diekspor tersebut dilaporkan sebagai hasil penangkaran. Namun eksportir tersebut juga banyak menerima burung paruh bengkok hasil tangkapan dari alam. Kondisi ini menyulitkan bagi pemerintah untuk mengontrolnya.

Selain diekspor secara resmi, burung paruh bengkok Indonesia juga diselundupkan ke Singapura lewat Medan Sumatera Utara. Penyelundupan burung ini termasuk jenis yang masuk dalam daftar apendix I CITES.

Melihati kondisi perdagangan burung paruh bengkok Indonesia yang memprihatinkan ini pemerintah dalam hal ini Directorat Jenderal PHKA harus mengambil langkah tegas untuk menindak pengusaha, eksportir dan KSDA yang terbukti melanggar kuota tangkap yang telah ditetapkan. PHKA hendaknya juga secara intensif melakukan operasi penyitaan burung paruh bengkok yang dilindungi di pasar-pasar burung.

Informasi lebih lanjut, hubungi:

ProFauna Indonesia Headquarters
profauna@profauna.org