Selamat datang di website ProFauna Indonesia | www.profauna.org

Press Release | 30 Desember 2008

Surabaya Pusat Perdagangan Nuri dan Kakatua




Setiap tahunya ribuan burung nuri dan kakatua ditangkap dari alam Maluku Utara dan Papua untuk diperdagangkan. Laporan ProFauna tahun 2007 yang berjudul Pirated Parrots mencatat ada sekitar 10.000 ekor nuri dan kakatua ditangkap dari alam untuk diperdagangkan. Burung tersebut selain diselundupkan ke Philipina, juga diperdagangkan di pasar domestik. Perdagangan burung nuri dan kakatua di tingkat domestic ini terpusat di Kota Surabaya. Surabaya menjadi pintu masuk bagi penyelundupan burung nuri dan kaktua asal Maluku dan Papua.

Monitoring ProFauna Indonesia disejumlah pasar burung yang ada di Surabaya, seperti Pasar Burung Bratang, Pasar Turi dan Pasar Kupang, menunjukan tingginya angka perdagangan burung nuri dan kakatua.. Jenis burung yang biasa diperdagangkan di pasar-pasar burung ini diantaranya adalah kakatua besar jambul kuning (Cacatua galerita), kakatua tanimbar (Cacatua goffini), kakatua seram (Cacatua molluccensis), nuri kepala hitam (Lorius lory) dan jenis lainnya.

Catatan ProFauna di 2008 ada sekitar 1000 ekor dari jenis nuri dan kakatua yang diperdagangkan di pasar-pasar burung yang ada di Kota Surabaya. Untuk mengelabui petugas, burung nuri dan kaktua yang langka itu tidak dipajang secara menyolok, namun disimpan di rumah-rumah pedagang burung. Baru jika ada pembeli yang serius mau membeli, burung yang langka tersebut akan dikeluarkan.

Menurut UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perdagangan dan kepemilikan satwa dilindungi adalah dilarang. Pelanggar dari ketentuan ini dapat diancam pidana penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah.

Masih tingginya angka perdagangan burung nuri dan kakatua di Surabaya ini mendorong ProFauna terus melakukan kampanye tentang perlindungan burung nuri dan kakatua.Seperti yang dilakukan pada tanggal 30 Desember 2008, ProFauna kembali melakukan kampanye ke masyarakat di Kota Surabaya untuk tidak memperdagangkan burung nuri dan kakatua. Dalam kampanye di akhir tahun yang dikemas dalam bentuk demonstrasi unik dengan membawa boneka mirip burung nuri setinggi 4 meter itu ProFauna mendorong pemerintah agar melakukan upaya penegakan hukum yang lebih tegas terhadap perdagangan ilegal burung nuri dan kakatua.

Juru kampanye ProFauna R Tri Prayudhi mengatakan, ”ada banyak kekejaman dibalik perdagangan burung nuri dan kaktua. Sekitar 40% burung tersebut mati akibat stress dan sitem penangkapan yang buruk”. ProFauna memandang bahwa burung nuri dan kakatua tersebut adalah lebih indah di alam, sehingga lebih bermanfaat bagi masyarakat lokal di Maluku dan Papua. Di alam, burung tersebut dapat menjadi obyek wisata alam sehingga memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat lokal.

R.Tri Prayudhi, Campaign Officer ProFauna Indonesia
HP 08153904284, tri@profauna.org